SKANDAL PROYEK JALAN TEMBUS GRIYASHANTA: WALIKOTA MALANG MENERAPKAN STRATEGI ADU DOMBA ALA PENJAJAH BELANDA

OPINI

 

PUSAT RISET, DATA & LITBANG DETIKVISI

MEMBAWA PREMAN-PREMAN BRUTAL, MENGADU DOMBA WARGA DENGAN WARGA, MAHASISWA DENGAN MAHASISWA, WARTAWAN DENGAN WARTAWAN

Siang itu, sejumlah warga merasa ketakutan karena sejumlah orang berdatangan membawa pendekar- pendekar hebat. Para pendekar sakti itu dengan sombong berujar bahwa siapa pun yang menyembunyikan orang yang dicari akan berakhir mati.

Ancaman para pendekar itu sungguh serius. Terbukti, satu per satu penduduk dibunuh. Hal ini terjadi karena tidak ada yang mengaku menyembunyikan buronan yang dicari. Sejurus kemudian, sesosok (tokoh) melompat ke udara. Ia mengaku sebagai orang yang paling dicari. Terjadi pertarungan hebat yang mempertontonkan adu kesaktian. Meskipun kepala pendekar musuh terpisah dari badan, Ia masih hidup.

 

Itulah cuplikan film Jaka Sembung yang masyhur era 80-an. Belanda mengalahkan Jaka Sembung dengan menggunakan pendekar-pendekar pribumi yang sakti. Belanda melakukan politik divide at empera, politik adu domba.

Preman-preman membongkar tembok Griyashanta. Melanggar tindak pidana pengrusakan Melanggar KUHAP karena masih sengketa perdata di Mahkamah Agung belum incrah

Terlepas dari apakah Anda percaya atau tidak Walikota Malang Wahyu Hidayat dalam skandal proyek jalan tembus Griyashanta, diduga menerapkan metode adu domba di antara sesama warga Kota Malang. Adu domba sesama warga Kota Malang terlihat ketika Aliansi Pro Publik (APP) mengaku bertanggung jawab atas pembongkaran tembok Griyashanta. Ketua APP yang masih aktif sebagai mahasiswa, dibenturkan dengan mahasiswa yang peduli terhadap warga. Ketika mahasiswa yang peduli terhadap warga Griyashanta berdemonstrasi di depan PN Kota Malang mereka ditangkap oleh Polsek Blimbing atas saran APP. Ketua APP adalah mahasiswa ITN, sedangkan mahasiswa yang peduli terhadap warga Griyashanta adalah mahasiswa UB.

Walikota Malang Wahyu Hidayat

Walikota Malang juga memanfaatkan warga untuk berontak terhadap institusi yang sah. Karena diduga hasutan Pemkot Malang, bendahara dan sekretaris RW 12 Griyashanta membuat surat agar pagar tembok Griyashanta segera dibongkar. Akibatnya, sesama warga Griyashanta saling bentrok, bermusuhan, dan curiga.

Selain itu, Walikota Malang berupaya mengadu domba antar wartawan. Detikvisi.com mendapat teguran dari sejumlah wartawan atas perintah Walikota Malang ketika memberitakan kasus pagar Griyashanta. Sejumlah wartawan ibu kota dihubungi atas suruhan Walikota Malang. Wartawan senior juga dihubungi kurang lebih atas perintah Walikota Malang.

Celakanya, Walikota Malang sewaktu uji coba jalan tembus Griyashanta membawa preman-preman brutal. Preman-preman tersebut mencaci maki ibu-ibu penghuni perumahan Griyashanta. Tidak cukup sampai di situ, preman-preman suruhan Walikota Malang menarik krah mantan Dandim Letkol Gunawan Aris. Fakta-fakta empirik tersebut membuktikan Walikota Malang lebih mengedepankan anarkis, destruktif, dan kacau. Alih-alih menggunakan pendekatan demokrasi seperti dialog, diskusi dan musyawarah, Walikota Malang lebih mengutamakan adu domba yang diduga dilakukan oleh penjajah Belanda daripada kepentingan.